cipete, 260109

"aku pulang mak..."

saat kutatap mata emak.
ada titik airmata disudutnya, hampir tumpah, entah sedih, entah terharu rindu
disambutnya tangan mungil si Ikal sulungku, sambil tak lupa meraih dan menggendong disebelah lengannya si Gembil bungsuku.

membungkuk aku raih tangan keriput emak, kusodorkan hidung dan bibirku, takzimku yang mendalam.
Mitrih istrikupun serta merta mengecup tangan emak. tak ada kata-kata.

sejak becak kami dirampas pemkot setengah tahun kemarin, centeng-centeng rentenir datang silih berganti menagih piutang mereka.


segar diingatanku, teriakan dan tendangan lars kusam satpol-pp, menghujam-hujam tanpa jeda. tak renta dengan sahut menyahut serak suaraku sambil aku berusaha meraih jeruji roda becakku.
tapi genderang perang mereka sudah terlanjur ditabuh, beringas dan tanpa ampun. "penertiban menjelang PILKADA!" teriak mereka bersahut-sahutan.

serakku tenggelam,
tak terhitung, tak terlihat, sunyi ditengah debu yang hingar bingar.
lalu aku terduduk lunglai diatas trotoar, menatap becakku pergi menjauh diatas truk, tak perduli kuyup peluh di kaosku.
bayangan Mitrih, Ikal dan Gembil, berebut lewat di benak. menari-nari, berjejal-jejal, tak sabar mengantri, tak mau berhenti.

kuseka airmata yang tak terasa sudah ada diujung pipi, tak ingat kapan terakhir bertahun-tahun lalu aku mengusapnya. "lelaki pantang menangis" itu pesan almarhum ayah.
siang ini aku langgar pesan itu.

sejak siang itu, rangkaian pelanggaran pesan ayah itu,mewarnai hidupku, airmata menjadi lauk kami mengarungi hari.

kompor minyak tanah cap 'Butterfly' yang lama jadi impian Mitrih yang baru dicicil dua kali itupun, sudah tak bisa dilanjutkan, hingga akhirnya diambil paksa tukang kreditnya. belum lagi kain seragam Ikal yang baru selesai dijahit, belum mulai angsuran pertamanya, entah berapa lama itu akan juga ditagih paksa.

senyum ramah merekah di ujung bibir, dari para pemberi pinjaman uang, saat aku datang menghamba beberapa lembar rupiah.
yang ternyata berujung petaka, selembar pinjamanku berarti dua lembar cicilanku, begitu kesepahamannya dimuka, yang tak aku pedulikan sebelumnya.

hari-hari jadi menghimpit, tak punya ruang untuk sekedar menghela nafas.

sepeda kumbang kebanggan kamipun akhirnya menjadi ganjarannya, tak cukup rupiahnya jika sekedar digadai.
lunas terbayar semuanya, tandas hingga yang terkecil, termasuk pinjaman liter demi liter beras selama aku tak menarik becak, jumlah seluruhnya hampir seharga si kumbang.

sepeda itu, saksi kebahagiaan kami sekeluarga menghabisi waktu-waktu senggang saat aku tak berangkat mencari sewa.

masih terngiang tawa bahagia anak-anak saat wajah mereka diterpa angin sore, aku mengayuh, Mitrih membonceng sambil mengapit pinggangku, juga kerap tersenyum, sambil sesekali mengelus pundakku seakan ingin berbagi beban mengayuh.
cuma berkeliling saja melihat taman kota, disela angkuh reklame pemilihan dan foto calon yang sedang marak berkampanye
banyak lampu bagus jika malam menjelang, rengek anak-anak setiap kali meminta.
pulang ke rumah selepas isya, sampai si Gembil tertidur dipelukan ibunya, tinggal si Ikal yg duduk di belakang stang menikmati kemerdekaannya merebut angin tanpa diganggu adiknya.

semuanya tinggal cerita.
dulu, seakan hanya tsunami yang bisa merontokkan kebahagiaan kami. penghasilan dari menarik becak, cukup untuk membiayai hidup sederhana kami, ternyata tsunami itu sungguh-sungguh hadir, dan menyapu semuanya.
aku lunglai melawan zaman
terhuyung ditampar langit
terengah ditengah badai
tinjuku melemah tak lagi sempurna mengepal.

habis waktu, kontrakan sederhana kamipun akhirnya tak sanggup aku lanjutkan,
berat aku putuskan untuk pindah ke rumah emak.
ini lebih dari sekedar kekalahan, bukan sekedar kembali ke titik nol, lebih dari sekedar tamparan egoisme kelelakianku, kegagalan tersukses dalam hidupku.
proklamasi atas resminya sebuah keterpurukan. lengkap sudah.

gemetar aku mengetuk rumah penuh kenangan kecilku, kuhabiskan masa kanak-kanak dirumah ini, yang dulu gagah kutinggalkan selepas aku menikah, meski hanya untuk mengontrak sebuah petakan kecil.
sekarang kusinggahi lagi, satu tas agak besar berisi pakaian kami dibahu kananku, Ikal dibahu kiriku.
tas kecil berisi botol-botol susu dibahu Mitrih, juga si Gembil di sisi bahu lainnya.

perlahan pintu itu terbuka.
muncul sosok wanita lebih separuh baya, yang senyum dan rautnya melekat erat dibenakku.
yang memenuhi hari-harinya dengan baluran doanya untukku, yang dekapan hangat di tidur lelap kanak-kanakku, tak juga hilang rasanya hingga sekarang
yang tak lelah dan lekang kesabarannya mengampuni alpa dan salahku.
yang tak habis-habis aku sesali keterbatasanku membalas lautan kasihnya.

lirih dan setengah berbisik, sambil sekuatnya kumenahan tangisku, bibirku bergetar, lututku lunglai, aku memompa keberanian dan mengumpulkan kekuatan yang tersisa, nafasku berbaris satu-satu berdesakan sambil mengucap, "aku pulang mak..."


cipete, 260109
-Syahid Ibrahim Ismantriono-

3 comments:

T A T A R I said...

nice writing... ^^
when something awful just happened to someone you care about and you don't understand why bad things happen to good people, you will really want to know what the meaning of life exactly...

I see, life sometimes doesn’t go exactly like I want it to be. There are ups and downs.
Now I realize that your posting is very touching ^^

Sapi_duduk said...

hehehehe.. ini ketikan kk gw...
gw jg baru tau dia doyan ngetik ^^a

T A T A R I said...

iya gw tau ini ketikan kk lu
soalnya nama yg punya blog ini bukan Syahid Ibrahim Ismantriono,
huehehe

^^

Popular Posts